Asal usul Hantu Jailangkung

Jailangkung merupakan roh yang dapt memasuki benda yang disiapkan untuk media persinggahannya. namun hatu ini juga bisa menjelma menjadi perempuan berambut panjang dan bergaun putih seperti kuntilanak. pada jaman dahulu banyak orang menggunakan istilah jailangkung untuk sebuah permainan, pemanggilan roh dilakukan dengans ebuah nyanyian mantera. ada beberapa versi yang mengatakan tentang asal usul jailangkung, erikut penjelasannya.

1. versi pertama mengatakan nama jailangkung berasal dari kepercayaan warga tionghoa yaitu “Cay Lan Gong”/ dewa keranjang, di percaya sebagai dewa pelindung anak-anak. permainan ini bersifat ritual dan dimainkan saat acara festivel rembulan oleh anak-anak. Dalam ritual “Cay Lan Gong”, mereka memanggil roh halus yang bernama dewa “Poyang” dan “Moyang” agar masuk ke sebuah boneka yang tangannya dapat digerakan agar menuruti perintah si pemanggilnya. Pada ujung tangan boneka tersebut diikatkan sebuah biasanya kapur tulis. Boneka tersebut juga dihiasi dengan pakaian manusia, dikalungi kunci dan dihadapkan ke sebuah papan tulis, sembari menyalakan dupa. Saat boneka tersebut telah dirasuki dewa maka akan menjawab pertanyaan yang diajukan oleh pemanggil dengan cara menulis diatas papan yang telah disediakan.

2. Versi yang kedua datang dari masyarakat jawa, istilah jailangkung merupakan sebuah permainan pemanggil roh. menurut masyarakat roh yang masuk ke dalam media yang digunakan oleh pemanggil adalah hantu “Nini Thowon atau nini Thowok”. media yang digunakan adalah gayung tradisional yang terbuat dari tempurung kelapa kemudian di kasih tangan-tanganan dari kayu dan ujungnya di kasih alat tulis kapur, kemudian di pakein kain putih seperti baju, lalu di bakarkan dupa dan di nyanyikan mentera-mantera pemanggil arwah jailangkung tersebut. maka jika roh sudah masuk ke boneka maka dapat menuruti pertanyaan orang yang memanggilnya.

3. Versi Minangkabau bahwa ada juga yang memiliki ritual sama dengan jailangkung disebut “Lukah Gilo”. Permainan ini berkembang dalam bentuk seni pertunjukan di Desa Lumpo Timur, Kecamatan Ampek Balai Juran, Kabupaten Pesisir Selatan. Pertunjukan ini dimainkan oleh seorang pawang atau “Dukun Lukah” dan satu sampai empat orang pemain yang bertugas memegang “lukah” tersebut. “Lukah” adalah alat untuk menangkap ikan air tawar yang terbuat dari bambu yang dianyam, bentuknya menyerupai vas bunga. Keranjang “Lukah” ini digunakan untuk pertunjukan Lukah Gilo dengan mendandaninya menyerupai orang-orangan seperti halnya dalam permainan Cay Lan Gong. Tangannya dibuat dari kayu lurus atau bambu, dan kepalanya dibuat dari labu atau tempurung kelapa. “Lukah” itu juga dirias dengan kain, baju, selendang, korset, dan wajahnya dirias layaknya perempuan. setelah lukah tersebut dibisikin mantera oleh pawangnya maka boneka tersebut menjadi seperti gila dan bergerak kesana kemari.

apapun versi dan kepercayaannya tentang pemahaman hantu jailangkung, bahwasannya mitos tersebut telah turun temurun dari nenek moyang terdahulu, apakah sebuah kepercayaan atau sebuah warisan budaya, hingga para sutradara mencoba menggali informasi untuk diangkat menjadi sebuah film. Karena sifatnya yang berupa ritual yang memanggil dan berkomunikasi dengan makhluk halus, permainan jailangkung yang awalnya sekadar permainan kemudian berkembang memunculkan mitos-mitos hantu atau kesurupan sebagai imbas untuk orang yang memainkan permainan ini. Mitos tersebut umumnya adalah bila permainan ini diakhiri tanpa melepas atau berpamitan dengan makhluk halus yang masuk ke dalam boneka, makhluk halus tersebut akan mengikuti orang yang memanggilnya dan mengganggu karena marah pergi tidak diantar.

Leave a Reply