Asal Usul Suku Banggai

Suku Banggai merupakan suku asli yang mendiami Kepulauan Banggai di Kabupaten Banggai di Provinsi Sulawesi Tengah, Indonesia. Suku Banggai terdiri dari dua kelompok, yaitu Suku Banggai Kepulauan yang berada di wilayah kepulauan Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dan Suku Sea-Sea atau Suku Banggai Pegunungan yang berada di wilayah pegunungan daratan utama di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah.

suku banggai

kisah ini berawal dari perjalanan Adisoko dari tanah Jawa ke Sulawesi Tengah, dan kemudian menjadikannya sebagai Raja Pertama di Banggai. Sebutannya adalah Mumbu Doi Jawa yang artinya Tuan dari Jawa. Adisoko pun menikah dengan perempuan gaib yang memberikannya anak ajaib yaitu Abu Kasim. Saat Abu Kasim di dalam kandungan, Adisoko memutuskan untuk kembali ke tanah Jawa. Selama 10 tahun, rakyat Banggai hidup tanpa adanya kepala pemerintahan. Masyarakat pun jadi resah karena menginginkan sosok pemimpin untuk Keraton Banggai.

Pada saat itu muncul lah seorang nenek ajaib yang mengatakan kepada masyarakat bahwa mereka bisa mendapatkan kembali raja mereka dengan cara menangkap seorang anak ajaib yang memiliki tali gasing dari emas. Anak itu adalah Abu Kasim. Ditangkap di tengah hutan, Abu Kasim diminta untuk menjemput kembali Adisoko ke tanah Jawa. Abu Kasim mengajukan syarat dalam penjemputan itu, ia meminta 40 anak bayi laki-laki beserta gendongan kayunya untuk menemaninya berlayar menjemput Adisoko.

Sesampainya di kawasan bernama Kibit, tiba-tiba sebuah kilat menyambar dari langit. Dengan kekuatan ajaib Abu Kasim dan kilat tersebut anak-anak bayi yang berada di dalam kapal berubah menjadi pemuda. Abu Kasim akhirnya tiba di tanah Jawa menemui ayahnya. Ketika itu Adisoko sudah tidak ingin kembali ke Banggai. Namun Abu Kasim merasa belum sanggup untuk memerintah rakyat Banggai.

Akhirnya Abu Kasim diminta untuk menjemput kakak tirinya yang bernama Mandapar di Ternate. Bersamaan dengan itu, Adisoko menyerahkan sepasang burung maleo miliknya kepada Abu Kasim. Setelah itu Mandapar akhirnya memerintah di Keraton Banggai bersama Abu Kasim. Lama berselang burung maleo pemberian Adisoko tidak menghasilkan telur karena di Banggai tidak ada pasir.

Burung maleo akhirnya dikirim ke Batui supaya bisa bertelur. Namun dengan satu syarat, telur pertamanya harus diberikan kepadanya di Keraton Banggai. Setelah itu baru masyarakat Batui boleh menikmati telurnya. Sejak saat itulah, Ritual Tumpe ini dilakukan di Banggai sampai sekarang. Masyarakat Batui sudah menjaga ritual ini selama ratusan tahun lamanya. Ritual ini tidak boleh diadakan terlambat atau tidak dilaksanakan. Nanti masyarakat akan kena bala atau suatu musibah.

Percaya tidak percaya memang, tetapi ini adalah tradisi yang setiap tahun diselenggarakan. Bagi traveler yang ingin ikut serta mengambil gambar atau video dari ritual ini juga harus memberikan sesajen berupa kemenyan. Jika terlambat atau tidak memberikan sesajen, diyakini gambar yang diambil akan hilang atau traveler sendiri yang akan terkena musibah.

Leave a Reply