Hantu balai seribu pembunuh manusia dari hutan kalimantan

ulau Kalimantan adalah salah satu paru-paru dunia karena luas hutannya, yaitu sekitar 40,8 juta hektar. Hutan di Kalimantan Barat tinggallah bersisa 8,2 juta hektar, dan —sebagaimana dilansir oleh WALHI Provinsi Kalbar— mengalami deforestasi sebesar 124.956 hektar atau hampir 2 kali luas Jakarta pada periode 2015-16. Ia terdiri atas 124.657 hektar hutan primer dan sekunder, serta hutan tanaman 299 hektar.

Hutan ini banyak terdapat berbagai hewan-hewan liar, yang hidup bebas. Apalagi sekarang ini Kalimantan Barat baru memiliki hutan adat. Malam hari hutan ini terlihat gelap tanpa ada sedikitpun lampu yang menerangi karena memang sangat jauh dari rumah penduduk. Banyak manusia yang mencoba mengekplortasi rimbunnya hutan ini untuk sekedar penelitian maupun menikmati alamnya.

Di hutan belantara kalimantan ini banyak menceritakan suka duka seperti hilangnya manusia ke dalamnya dengan misterius. Peralatan modern seolah-olah tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini menjadi misteri hutan kalimantan sampai saat ini.

Balai seribu hantu hutan kalimantan

Hantu balai seribu kalimantan

Hantu balai seribu kononnya berada di hutan belantara kalimantan bersama dengan hewan-hewan liar. Mereka ini datang pergi secara tiba-tiba. Kedatangan balai seribu menurut makhluk setempat ditandai dengan angin kencang yang datang mendadak, tanpa sebab musabab padahal hari bagus. Kedatangan manusia ke wilayah tinggal mereka membuat mereka marah. Apalagi tanpa permisi kepada raja hutan dari alam gaib seperti mereka. Jenis hantu ini sering mengganggu orang yang masuk ke hutan yang lebat.

Meskipun begitu, sampai saat ini hantu balai seribu tidak pernah menampakkan wujud mereka kepada manusia. Yang ada hanyalah cerita tentang korban yang hilang tanpa dapat ditemukan. Karena memang tidak ada yang mampu hidup setelah bertemu dengannya.

Keberadaan hantu dan makhluk gaib lainnya mungkin hanya ada dalam cerita mulut kemulut tanpa adanya bukti secara sains modern. Akan tetapi keberadaan mereka sebagai penghuni di bumi ini tetap harus kita akui. Walahualam.

Leave a Reply