5 jenis ilmu kebal suku banjar

Suku Banjar (bahasa Banjar: Urang Banjar / اورڠ بنجر) adalah suku bangsa yang menempati wilayah Kalimantan Selatan, serta sebagian Kalimantan Tengah dan sebagian Kalimantan Timur. Suku bangsa Banjar berasal dari daerah Banjar yang merupakan pembauran masyarakat beberapa daerah aliran sungai yaitu DAS Bahan, DAS Barito, DAS Martapura dan DAS Tabanio.

Dalam budaya masyarakat Banjar Hulu yang mendiami kawasan Banua Anam (Dulu Banua Lima) di wilayah Propinsi Kalimantan Selatan, masih sangat kental dengan tradisi bataguh atau ilmu kekebalan. Tradisi ini juga dikenal pada budaya masyarakat Banjar Batang Banyu, Banjar Kuala, dan Banjar Pulau (sebutan untuk suku Banjar yang mendiami pulau-pulau di wilayah Kabupaten Kotabaru).

Para pria dewasa yang akan pergi ke luar daerah untuk mencari usaha dan penghidupan, hingga kini masih terdapat yang membekali diri mereka dengan ilmu kekebalan terhadap senjata tajam.

para pemuda dari suku Banjar yang menjadi tentara dan akan dikirim ke medan tempur. sebagian besar dibekali dan menggunakan ilmu kekebalan. Tujuannya sudah pasti agar mereka dapat dengan selamat saat bertugas hingga kembali lagi ke kampung halaman. Demi keselamatan tentara yang akan dikirim tersebut, tak hanya pihak keluarga yang sibuk mencarikan kekebalan, tapi juga para tokoh masyarakat bahkan tokoh agama. Jenis ilmu kebal yang diperoleh memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tergantung cara mendapatkannya dan jenisnya. berikut ini adalah 5 jenis ilmu kebal suku banjar.

ilmu kebal suku banjar

1. Mandi

“Mandi Kebal” adalah salah satu cara untuk memperoleh kekebalan, dengan cara mendatangi seorang guru “tukang mandi” untuk minta dimandikan supaya kebal. Persyaratan dan kelengkapannya adalah: Sebuah piring putih polos, selembar sarung, sebilah jarum, dan sebiji kelapa muda. Semuanya harus yang baru, dan ketika beli, harganya tak boleh ditawar.

Prosesnya, pertama tukang mandi membuat rajah pada piring putih dengan menggunakan jarum, lalu dilebur dengan air. Kemudian klien memakai sarung (tanpa baju dan celana). Sang guru menuangkan air rajah dan air kelapa muda ke dalam bak air yang telah disiapkan. Dengan posisi menghadap kiblat, setelah membaca bacaan tertentu, tukang mandi segera mengguyurkan air tiga kali ke atas kepala, tiga kali ke bahu kanan, dan tiga kali ke bahu kiri. Selebihnya yang bersangkutan bisa mandi sendiri untuk menghabiskan sisa air yang ada.

Hasil kekebalan yang diperoleh melalui mandi ini sama dengan hail lampahan, yakni bisa rusak jika melanggar pantangan. Prosesi ritual mandi ini berbeda-beda pada setiap guru. Bahkan dikatakan yang paling ampuh adalah mandi dengan memakai sarung ibu, lalu dimandikan oleh ibunya sendiri.

2. Untalan

Untalan berarti “sesuatu yang ditelan”. Maksudnya, untuk memperoleh kekebalan tubuh, maka seseorang harus menelan sesuatu yang bisa menyebabkan tubuh menjadi kebal terhadap berbagai jenis senjata.

Untalan itu di antaranya yang paling terkenal adalah “minyak bintang”, dan “daun kebal sehari”. Kedua benda ini harus ditelan, karena diyakini dapat membuat tubuh menjadi kebal. Tentang minyak bintang, sudah di bahas di mitos Minyak Bintang suku dayak.

Selain kedua benda di atas, masih banyak lagi benda lainnya yang jika ditelan diyakini dapat membawa kekebalan, dan semua benda itu disebut “untalan”. Semakin banyak untalan, maka semakin kebal. Ungkapan yang paling terkenal di masyarakat Banjar adalah “41 untalan”, yakni telah menelan 41 macam jenis benda magis, yang diyakini tidak ada titik lemahnya lagi, alias kebal sempurna.

Kebal dengan untalan ini diyakini awet selama benda yang “diuntal” itu tidak keluar dari dalam tubuh.

3. Lampahan

Lampahan, atau hasil belampah (bertapa/bersemedi), yakni melakukan ritual tertentu untuk memperoleh kekebalan tubuh. Misalnya menjalankan puasa mutih, dan mengamalkan bacaan tertentu selama batas waktu tertentu dalam jumlah tertentu, dengan berbagai persyaratan dan kelengkapannya.

Jika lampahan dianggap berhasil, maka yang bersangkutan akan memiliki kekebalan tubuh yang permanen, selama tidak melanggar hal-hal yang dapat merusak (ruah) hasil lampahan tersebut. Larangan tersebut di antaranya adalah berzina, berjudi, mencuri dan minum minuman keras. Jika melanggar hal tersebut, maka kekebalannya langsung hilang.

4. Bacaan

Bacaan yakni sesuatu yang dibaca, bisa berupa doa, atau mantra. Doa biasanya dalam bahasa Arab yang diambil dari ayat-ayat Alquran. Sedangkan mantara berupa kata-kata yang entah berasal dari mana, bisa berupa pantun atau kata-kata yang sulit/tidak dipahami maknanya. Contoh mantara yang paling terkenal adalah Inna Anna Amanna Kaga Papa.

Bacaan tersebut biasanya dibaca ketika keluar rumah untuk berurusan, atau saat berhadapan dengan musuh. Dengan membaca bacaan-bacaan itu, diyakini musuh tidak akan mampu melukai tubuh pembacanya. Jadi, doa atau mantara ini harus dibaca setiap kali berurusan, atau pada setiap masalah yang dihadapi.

5. Rajah/Jimat/Benda Bertuah

Rajah adalah sesuatu yang ditulis (biasanya pakai huruf Arab) pada badan, atau baju yang dipakai. Sedangkan jimat adalah mirip dengan rajah, namun ditulis pada kertas, daun atau kulit binatang, lalu dibungkus dengan kain hitam atau kuning. Sedangkan benda bertuah seperti cemeti (tongkat kecil yang diisi dengan ilmu kanuragan), keris atau benda lainnya yang diyakini punya daya magis.

Untuk memperoleh kekebalan tubuh, maka rajah, jimat atau benda bertuah itu harus dibawa atau dipakai, seperti ditaruh di saku, dijadikan kalung, diselipkan di mulut, dan lain-lain. Pokoknya harus melekat dengan tubuh. Jika sudah dilepas, maka efek kebalnya pun hilang.

Leave a Reply