Mitos Kelimutu Suku Flores

Suku bangsa Flores adalah percampuran etnis antara Melayu, Melanesia, dan Portugis. Dikarenakan pernah menjadi Koloni Portugis, maka interaksi dengan kebudayaan Portugis sangat terasa dalam kebudayaan Flores, baik melalui genetik, agama, dan budaya. Ada beberapa Suku – suku yang terdapat di Pulau Flores yang terdiri dari delapan suku besar. Flores, dari bahasa Portugis yang berarti “bunga” adalah sebuah pulau yang berada di wilayah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia.

Penghargaan yang Tinggi akan Adat dan Upacara Ritual studi Graham (1985) mengungkapkan bahwa dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat Flores Timur, ada empat aspek yang memainkan peranan penting, yaitu episode-episode dalam mitos asal-usul, dan tiga simbol ritual lainnya yakni nuba nara (altar/batu pemujaan), korke (rumah adat), dan namang (tempat menari yang biasanya terletak di halaman korke). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang Flores memiliki penghargaan yang sangat tinggi akan adat-istiadat dan upacara-upacara ritual warisan nenek-moyangnya.

Masyarakat flores tetap mempertahankan tradisi leluhur. Salah satunya adalah tradisi megalitik di beberapa sub etnis Flores. Misalnya, tradisi mendirikan dan memelihara bangunan-bangunan pemujaan bagi arwah leluhur sebagai wujud penghormatan (kultus) terhadap para leluhur dan arwahnya berawal sejak sekitar 2500 – 3000 tahun lalu dan sebagian diantaranya masih berlangsung sampai sekarang.

Mitos Suku Flores

mitos kelimutu flores

1. Mitos Danau Kelimutu

Cerita Danau Kelimutu versi masyarakat setempat ini sedikit menjadikan tempat wisata ini terkesan angker. Konon katanya tiap-tiap danau dihuni oleh parah roh. Danau yang berwarna biru, bernama Tiwu Nuwa Muri yang dihuni oleh roh anak-anak muda yang sudah meninggal. Danau yang berwarna merah, bernama Tiwu Ata Polo yang dihuni oleh roh orang-orang yang berkelakuan jahat semasa hidupnya, menurut legendanya orang jahat yang dimaksud adalah para penyihir. Sedangkan danau yang berwarna putih, bernama Tiwu Ata Mbupu yang dihuni oleh roh orang-orang tua yang sudah meninggal.

2. Mitos Gunung Kelimutu

Konon, puncak Gunung Kelimutu atau Bhua Ria yang berarti “hutan lebat penuh awan”, tinggallah Konde Ratu dengan rakyat-rakyatnya. Dari kumpulan rakyat tersebut, ada dua orang yang menonjol yaitu Ata Polo – seorang penyihir yang dinilai kejam karena suka memangsa manusia dan Ata Bupu – seorang yang amat senang berbelas kasih dan mampu menangkal sihir milik Ata Polo. Kehidupan di Bhua Ria sama seperti kehidupan di daerah lain, tenang dan biasa saja. Hal ini berubah ketika sepasang Ana Kalo (yatim piatu) datang dan meminta tolong kepada Ata Bupu untuk melindungi mereka karena kedua orang tuanya telah tiada. Hal ini disetujui Ata Bupu dengan syarat mereka tidak boleh meninggalkan ladang milik Ata Bupu, takut mereka akan menjadi mangsa Ata Polo.

Kecemasan Ata Bupu terbukti ketika Ata Polo datang menjenguk dan mencium bau mangsa yang keluar dari kedua Ana Kalo. Ata Bupu memohon pada Ata Polo untuk paling tidak menunggu mereka dewasa sebelum memangsanya. Ketika dewasa, Ata Bupu mencoba menghalau Ata Polo yang berusaha sekuat tenaga untuk memangsa para Ana Kalo. Sadar tidak bisa mengalahkan Ata Polo, Ata Bupu memutuskan untuk kabur ke perut bumi. Ata Polo semakin menggila dan ketika sedang mengejar dua remaja tadi, ia juga ditelan bumi, sementara para remaja tewas karena gempa dan terkubur hidup-hidup.

Tempat Ata Bupu kabur ke perut bumi menyembul air berwarna biru yang diberi nama Tiwu Ata Bupu. Di tempat tewasnya Ata Polo juga keluar air, tapi berwarna merah darah dan diberi nama Tiwu Ata Polo. Sementara itu, di gua persembunyian para remaja muncul air berwarna hijau tenang dan bernama Tiwu Nuwa Muri Koo Fai.

Leave a Reply