Ritual Pengobatan Besale Suku Batin Jambi

Besale adalah prosesi ritual pengobatan orang sakit dalam komunitas masyarakat adat Batin Sembilan. Kordi dan Hasan Badak adalah dua warga Batin Sembilan yang bermukim dan berkehidupan di Hutan Harapan, tepatnya di Simpang Macan Luar, area Sungai Kandang. Ada sekitar 300 kepala keluarga Batin Sembilan yang hidup di dalam kawasan hutan dataran rendah tersisa di Sumatera ini. Selain dalam komunitas masyarakat adat Batin Sembilan, terminologi besale juga dikenal dalam komunitas masyarakat adat dan suku pedalaman lainnya di Jambi, yakni dalam komunitas Orang Rimba di Taman Nasional Bukit Duabelas.

Beterkas adalah salah satu prosesi yang harus dilalui sebelum besale. Kordi menjelaskan, beterkas adalah proses persiapan segala kebutuhan besale yang sudah ditentukan oleh sang dukun. Pada proses ini, semua sanak-saudara hadir menyumbangkan seluruh kemampuan, baik moril maupun materil kepada keluarga si sakit yang akan diobati. Beterkas dilakukan pada siang hari, sedangkan besale pada malam harinya.

Secara simbolik ritual ini menunjukkan penghargaan Batin Sembilan terhadap budaya mereka masih cukup kuat. Besale adalah simbol nilai budaya Batin Sembilan yang masih dipercaya dan diyakini secara utuh. Di sana ada penyerahan total dari penganutnya kepada tokoh adat; ada keyakinan kepada hal sakral untuk membantu mereka mengatasi masalah yang dihadapi; di sana terdapat pernyataan tersirat bahwa mereka nyaman hidup di Hutan Harapan; mereka berharap lingkungan hidup mereka tetap terjaga dengan baik.

Suku Batin adalah suku Melayu di provinsi Jambi di bagian pedalaman pulau Sumatra, Indonesia. Ada sekitar 72.000 (2005) orang Batin yang tinggal di pedalaman Sumatra tengah bagian selatan. Mereka menuturkan bahasa Melayu dengan dialek Jambi. Suku Batin kebanyakan beragama Muslim, tetapi menganut sistem matrilineal. Orang Batin suka hidup berpindah-pindah dan berjiwa gotong royong.

Orang batin berasal dari orang yg mendiami daerah pegunungan yg terletak disebelah baratnya, seperti orang kerinci yang mendiami dataran rendah disebelah timurnya. Berasal dari sebelah barat pegunungan Bukit Barisan. Mereka menggunakan tutur bahasa Melayu dengan dialek Jambi, dan ada campuran dialek bahasa Minang. Kebudayaan orang Batin merupakan perpaduan unsur-unsur kebudayaan Minangkabau dan Melayu Jambi

Persiapan Baterkas

Baterkas biasanya dilakukan pada siang atau petang hari. Persiapkan pada saat beterkas ini adalah miniatur rumah ukuran 1 meter. Orang Batin Sembilan menyebutnya balai. Dindingnya terbuat dari bambu yang diraut seperti lidi, sedangkan tiangnya dari batang kelumbi, sejenis tanaman yang batangnya mirip batang salak. Di dalam balai terdapat berbagai jenis kue yang mereka sebut sebagai cace. Pada dindingnya dipasang beragam hiasan.

Salah satunya disebut yarlipan, hiasan yang terbuat dari daun pandan yang dijalin seperti binatang melata bernama lipan dan dipasang melingkari balai. Ada pula lidi yang dipasangi berbagai macam bunga. Masih banyak hiasan lainnya yang disesuaikan dengan jenis balai, yang sekaligus menjadi pembeda antara satu balai dengan lainnya.

Tokoh adat, akan duduk berhadapan dengan keluarga si sakit untuk menerima bungkusan berisi kotak logam persegi empat. Seperangkat bungkusan ini disebut sirih petanyo. Pembicaraan dibuka dengan ungkapan permintaan bantuan dari keluarga yang sakit, misalnya orang tuanya yang sakit dan butuh diobati. Tokoh adat akan bertanya, apa yang harus disiapkan lagi? Akan dibacakan mantera yang diakhiri permintaan untuk membuatkan tujuh balai sebagai bagian syarat pengobatan.

Persiapan lainnya adalah kotak sirih petanyo yang didalamnya terdapat sirih, gambir, rokok, tembakau, pinang, cincin dan besi tajam. Sirih pengantar telah dihaturkan oleh keluarga si sakit kepada tokoh adat untuk bermohon bantuan.

Ada 6 balai yang memiliki bentuk dan fungsi berbeda. Jenis balainya yaitu:

1. Balai Pengasuh
2. Balai Betajuk Kembang
3. Balai Bebangun
4. Balai Angkat Sembah
5. Balai Betanggo Malai
6. Balai Kurung

Keenam balai tadi di gantung di kayu palang atap rumah. ada satu balai khusus yang diletakkan pada dinding rumah yaitu balai pengadapan. Di balai pengadapan nantinya pasien akan ditempati untuk diobati.

Setelah proses baterkas selesai dilakukan maka akan dilanjutkan ritual Besale yang dilakukan pada malam hari.

Besale

ritual pengobatan besale suku batin jambi

Biasanya sebelum ritual besale dimulai akan ada acara makan-makan bersama. setelah itu barulah ritual dilakukan. Si sakit akan di dudukkan dibawa ke Balai Pengadapan. Beberapa perempuan akan menemani si sakit dan dituntun untuk duduk di bawah balai pengasih.

Sementara itu, suara tabuhan redap (alat musik tabuh seperti kendang atau beduk) secara terpola dengan irama tertentu mengiringi prosesi acara besale yang dipimpin seorang dukun. Sang dukun menghadap ke sebuah wadah api kemenyan. Mengiringi suara tabuhan, dia mulai menari. Gerakan tarinya sekilas seperti silat yang anggun sambil memegang Seludang Gading, pelepah bunga pinang muda. Ia mengelilingi si sakit dengan gerakan tertentu dan sesekali mengitarkan Seludang Gading di kepala si sakit. Iringan tabuh redap disahuti ratapan dan permohonan dari beberapa tokoh adat. Pantun dan ungkapan-ungkapan adat yang terucap sangat enak didengar.

Dukun yang saat melakukan pengobatan seperti dalam kondisi trance, kesurupan atau tidak sadarkan diri, tetapi tetap melakukan tarian pengobatannya. Aroma kemenyan menguar di seluruh ruangan rumah, menambah aura mistis. Mungkin sekitar 10 menit ia dalam kondisi bawah sadar sambil menarikan tarian konstan dengan mengentakkan kakinya sambil melangkah pelan. Sementara itu si sakit dengan bantuan dari kerabat lainnya mulai berdiri dan mengikuti gerakan dukun mengitari Balai Pengasih secara perlahan dan sepertinya juga dalam kondisi trance. Kesadarannya muncul setelah diusapi air oleh dukun lainnya.

Hampir seluruh kerabat berdiri mengambil kesempatan untuk mengikuti langkah sang dukun dan si sakit mengitari Balai Pengasih yang tergantung 1,5 meter tersebut. Sehingga yang terlihat adalah barisan berputar dengan langkah simultan dan iringan tabuh redap.

Tabuhan redap perlahan mulai berkurang sejalan dengan munculnya suara ungkapan doa dan patatah petitih. Kecuali si pembawa petatah petitih, semua orang terdiam dan mengambil posisi duduk. Mereka istirahat sejenak untuk melepas lelah termasuk dukun dan si sakit.

Prosesi besale dilanjutkan –masih ada lima balai lagi yang akan mereka jalani, dimulai dari Balai Betajuk Kembang, Balai Bebangun, Balai Angkat Sembah, Balai Betanggo Malai, sampai ke Balai Kurung. Proses yang dijalani hampir sama antara satu balai dengan balai lainnya. Hanya bentuk dan fungsi masing-masing balai lah yang membedakannya.

Prosesi di bawah Balai Pengadapan merupakan pembuka dan penutup. Di sini si sakit dan keluarganya memohon penyembuhan penyakit. Di bawah ini pula lah nantinya akan diletakkan alas bagi pasien untuk istirahat setelah menjalani ritual yang panjang, yakni pada sebuah balai-balai bambu. Di sana diletakkan bakul persegi panjang yang berisi sesajian, seperti penganan, sirih, kapur, rokok, tembakau dan lain-lain. Terdapat pula hiasan dari daun kelapa muda yang di ujung lidinya dipasangi betih (beras yang di bakar).

Prosesi besale memakan waktu cukup panjang. Pada setiap balai butuh sekitar 30-50 menit. Dengan 6 balai maka butuh sekitar 4-5 jam. Bila ditambah dengan waktu istirahat akan menjadi sekitar 7-10 jam. Prosesi selesai pukul lima pagi.

Leave a Reply