suku anak dalam

Suku Kubu atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam atau Orang Rimba adalah salah satu suku bangsa minoritas yang hidup di Pulau Sumatra, tepatnya di Provinsi Jambi dan Sumatra Selatan. Mereka mayoritas hidup di provinsi Jambi, dengan perkiraan jumlah populasi sekitar 200.000 orang. Suku anak dalam Jambi memiliki aturan Hidup yaitu Pantang Dunia Terang, Melangun, Dilarang Berduaan, Mandi.

suku anak dalam

Pantang Dunia Terang

Mereka menyebut kehidupan di luar hutan rimba sebagai ‘dunia terang’. Begitu pun dengan orang-orang di luar SAD yang mereka sebut sebagai masyarakat terang. Ada pula yang menyebutkan jika mereka percaya bahwa masyarakat terang merupakan pemakan manusia. Itulah sebabnya Suku Anak Dalam tak mau bertemu dengan masyarakat terang.

Melangun

Suku Anak Dalam terbiasa hidup berpindah-pindah atau nomaden. Jika salah satu anggota keluarga meninggal dunia, mereka akan mengembara mencari tempat tinggal baru. Oleh mereka kegiatan ini disebut melangun. Mereka akan melangun hingga kesedihan karena ditinggal orang tercinta hilang.

Dilarang Berduaan

Suku Anak Dalam, ada aturan keras di antara mereka. Perempuan dan laki-laki Suku Anak Dalam dilarang berduaan. Bagi mereka yang ketahuan akan dihukum dengan kawin paksa. Namun sebelum dikawinkan mereka akan dihukum dengan pukulan rotan lantaran dianggap telah mempermalukan orangtua.

Mandi

Untuk urusan mandi, Orang Rimba tak perlu repot. Mereka tinggal mencelupkan diri ke kolam atau sungai. Lalu bersih-bersih tanpa menggunakan sabun.

Asal Usul

Seorang yang gagah berani bernama Bujang Perantau. Pada suatu hari memperoleh buah gelumpang dan dibawa kerumahnya. Suatu malam ia bermimpi agar buah gelumpang itu dibungkus dengan kain putih yang nanti akan terjadi keajaiban, yang berubah menjadi seorang putri yang cantik. Putri itu mengajak menikah Bujang Perantau, namun Bujang Perantau berkata bahwa tidak ada orang yang mengawinkan mereka. Putri tersebut berkata : “Potonglah sebatang kayu bayur dan kupas kulitnya kemudian lintangkan di sungai, kamu berjalan dari pakal saya dari ujung. Kalau kiata dapat beradu kening di atas kayu tersebut berarti kita sudah menikah”.

Permintaan itu dipenuhi oleh Bujang Perantau dan terpenuhi segala syaratnya, kemudian keduanya menjadi suami isteri. Dari hasil permenikahan itu lahirlah empat orang anak, yaitu Bujang Malapangi, Dewo Tunggal, Putri Gading, Dan Putri Selaro Pinang Masak.

Bujang Malapangi, anak tertua yang bertindak sebagai pangkal waris dan Putri Selaro Pinang masak sebagai anak bungsu atau disebut juga ujung waris keluar dari hutan untuk pergi membuat kampung dan masuk islam, ke duanya menjadi orang Terang.

Putri Selaras Pinang Masak menetap di Seregam Tembesi, sedangkan Bujang Malapangi membuat kampung pertama di sekitar sungai Makekal pertama di Kembang Bungo, ke dua Empang Tilan, ke tiga di Cempedak Emas, ke empat di Perumah Buruk, ke lima di Limau Sundai, dan kampong terakhir di Tanah Garo sekarang.

Hal inilah membuat orang Rimba menjadikan tokoh keturunan Bujang Malapangi sebagai Jenang (orang yang dapat diterima oleh orang Rimba dan juga oleh orang lain, selain orang Rimba yang berfungsi sebagai perantara bagi orang Rimbo yang akan berhubungan dengan orang lain atau orang lain yang akan berhubungan dengan orang Rimba). Jenang yang paling berpengaruh dijadikan rajo (raja), dan segala urusan antara orang Rimba dengan orang luar harus melibatkan Jenang mereka dan rajo-nya.

Leave a Reply